Jakarta, 8 September 2026 – Persaingan smartphone lipat global semakin panas setelah Huawei dan Xiaomi sama-sama memperkenalkan perangkat terbaru mereka pada Senin, 7 September 2026. Huawei meluncurkan Mate XT2 dengan konsep layar yang dapat dilipat dua kali hingga membentuk perangkat berukuran menyerupai tablet, sementara Xiaomi menghadirkan Xiaomi 18 Fold sebagai smartphone lipat premium terbarunya. Peluncuran kedua produk berlangsung hanya beberapa hari sebelum Apple menggelar acara produk pada 9 September 2026. Apple diperkirakan akan menggunakan momentum tersebut untuk memperkenalkan iPhone lipat pertamanya setelah bertahun-tahun hanya menjadi rumor. Kehadiran tiga pemain besar itu membuat segmen smartphone lipat memasuki babak persaingan baru, khususnya di pasar premium China.
Huawei Mate XT2 menjadi salah satu perangkat yang paling menarik perhatian karena mempertahankan konsep tri-fold yang telah dikembangkan perusahaan. Ketika dibuka sepenuhnya, perangkat tersebut menawarkan area layar berukuran besar sehingga dapat digunakan menyerupai tablet. Huawei melakukan sejumlah perubahan pada mekanisme engsel untuk meningkatkan daya tahan sekaligus memperbaiki ketahanan perangkat terhadap air. Perusahaan juga memperbarui sistem kamera dan menawarkan fitur layar privasi yang dapat membatasi pandangan orang dari sisi perangkat. Pendekatan tersebut menunjukkan Huawei tidak hanya mengejar bentuk perangkat yang berbeda, tetapi juga mencoba menyelesaikan sejumlah persoalan praktis yang selama ini menjadi tantangan smartphone lipat.
Pada sektor performa, Mate XT2 menggunakan Kirin 9050 Pro yang menjadi prosesor terbaru Huawei. Perusahaan mengklaim rancangan chip tersebut mampu meningkatkan kemampuan komputasi sekaligus menggunakan energi secara lebih efisien. Secara keseluruhan, Huawei menyebut performa Mate XT2 meningkat sekitar 42 persen dibandingkan generasi sebelumnya berdasarkan pengujian internal perusahaan. Peningkatan tersebut menjadi penting karena layar besar dan kemampuan menjalankan beberapa aplikasi sekaligus membutuhkan daya komputasi tinggi. Efisiensi energi juga menjadi perhatian mengingat perangkat lipat harus menyeimbangkan performa dengan keterbatasan ruang untuk baterai dan komponen internal.
Teknologi tinggi pada Mate XT2 membuat harga perangkat tersebut berada di kategori premium. Huawei membanderol produknya mulai 19.999 yuan atau sekitar Rp47 juta, sementara varian tertinggi mencapai 24.999 yuan atau sekitar Rp59 juta berdasarkan konversi kurs. Penjualan di China dijadwalkan dimulai pada 12 September 2026. Eksekutif Huawei Richard Yu mengakui tekanan biaya menjadi salah satu tantangan karena harga komponen memori mengalami peningkatan cukup tajam. Penggunaan berbagai teknologi baru pada perangkat juga membuat biaya produksi semakin besar sehingga perusahaan memilih mempertahankan posisi Mate XT2 sebagai produk kelas atas.
Xiaomi mengambil pendekatan berbeda melalui Xiaomi 18 Fold. Perangkat tersebut menggunakan desain lipat menyerupai buku dengan ukuran relatif ringkas ketika ditutup dan berubah menjadi layar besar setelah dibuka. Layar bagian dalam memiliki bentang sekitar 7,58 inci, sedangkan layar luarnya berukuran sekitar 5,38 inci. Xiaomi juga menggunakan struktur engsel baru yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan perangkat dalam penggunaan jangka panjang. Dengan bobot sekitar 219 gram dan ketebalan hanya 5,02 milimeter ketika dibuka, Xiaomi berusaha membuat smartphone lipat tetap nyaman digunakan sebagai perangkat sehari-hari.
Xiaomi 18 Fold menjadi semakin penting bagi perusahaan karena menggunakan prosesor XRing O3 yang dikembangkan sendiri. Chip tersebut membawa peningkatan performa dibandingkan generasi sebelumnya sekaligus memperkuat upaya Xiaomi mengurangi ketergantungan terhadap pemasok prosesor eksternal. Perangkat juga dirancang untuk menjalankan tiga aplikasi secara berdampingan ketika layar dibuka sehingga ukuran layar yang lebih besar dapat dimanfaatkan untuk produktivitas. Xiaomi turut memasang sistem kamera yang dikembangkan bersama Leica dengan kamera utama beresolusi 200 megapiksel. Kamera ultrawide dan telefoto periskop melengkapi konfigurasi fotografi pada perangkat tersebut.
Dari sisi harga, Xiaomi mengambil posisi lebih rendah dibandingkan Huawei Mate XT2. Xiaomi 18 Fold dipasarkan mulai 10.999 yuan atau sekitar Rp26 juta, sedangkan konfigurasi lebih tinggi mencapai 14.999 yuan atau sekitar Rp35 juta. Strategi tersebut membuat Xiaomi mencoba menawarkan smartphone lipat premium dengan harga yang relatif lebih kompetitif. CEO Xiaomi Lei Jun menilai produk tersebut tetap menawarkan nilai yang menarik meskipun biaya komponen, khususnya memori, sedang meningkat. Penjualan Xiaomi 18 Fold di China dijadwalkan mulai 10 September 2026.
Peluncuran Huawei dan Xiaomi berlangsung ketika pasar smartphone premium China semakin kompetitif. Huawei tercatat menguasai sekitar 22,6 persen pasar smartphone China pada kuartal kedua 2026, sedangkan Apple berada di posisi berikutnya dengan sekitar 18,1 persen. Xiaomi memiliki pangsa sekitar 12,4 persen pada periode yang sama. Posisi Huawei bahkan lebih kuat dalam kategori perangkat lipat, dengan pengiriman yang diperkirakan mencapai sekitar 68 persen dari keseluruhan pasar smartphone lipat China. Kondisi tersebut membuat masuknya produk baru dari Xiaomi dan kemungkinan perangkat lipat Apple berpotensi mengubah peta persaingan.
Perhatian berikutnya kini tertuju pada Apple yang dijadwalkan menggelar acara peluncuran produk pada Rabu, 9 September 2026. Perusahaan tersebut diperkirakan memperkenalkan generasi terbaru iPhone sekaligus berpeluang membuka lembaran baru melalui smartphone lipat pertamanya. Sejumlah laporan industri memperkirakan perangkat itu akan menggunakan desain lipat seperti buku dengan layar bagian dalam sekitar 7,8 inci dan layar luar sekitar 5,5 inci. Harga perangkat diperkirakan berada di atas 2.000 dolar AS sehingga akan langsung ditempatkan pada segmen ultra-premium. Namun, detail spesifikasi maupun harga masih harus menunggu pengumuman resmi Apple.
Masuknya Apple berpotensi memberikan dorongan baru bagi kategori smartphone lipat yang selama beberapa tahun terakhir berkembang tetapi belum menjadi produk arus utama. Produsen seperti Huawei dan Samsung telah lebih dahulu mengembangkan berbagai bentuk perangkat, mulai dari model flip, book-style, hingga tri-fold. Xiaomi kemudian meningkatkan persaingan melalui desain lebih tipis dan penggunaan prosesor internal. Kehadiran Apple dapat memperluas perhatian konsumen terhadap kategori tersebut sekaligus mendorong produsen lain mempercepat pengembangan teknologi layar dan engsel. Persaingan berikutnya kemungkinan tidak hanya berkaitan dengan desain, tetapi juga daya tahan, perangkat lunak, kamera, baterai, dan harga.
Rangkaian peluncuran pada September 2026 pada akhirnya menunjukkan smartphone lipat semakin menjadi medan persaingan penting bagi produsen perangkat premium. Huawei mencoba mempertahankan keunggulannya melalui Mate XT2 dengan konsep tiga bagian layar, sedangkan Xiaomi menawarkan 18 Fold yang lebih konvensional tetapi tipis dan dibekali chip buatan sendiri. Apple berada dalam posisi berbeda karena baru akan memasuki kategori yang telah lebih dahulu dikembangkan para pesaingnya. Pengumuman pada 9 September akan menjadi penentu apakah perusahaan tersebut benar-benar membawa iPhone ke era perangkat lipat pada tahun ini. Jika terealisasi, konsumen akan mendapatkan lebih banyak pilihan sekaligus menyaksikan persaingan teknologi smartphone lipat yang semakin ketat.