Jakarta, 7 September 2026 – Pertempuran sengit antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman terus berlangsung di wilayah barat daya negara tersebut dengan jumlah korban tewas dilaporkan telah melampaui 300 orang. Korban terdiri atas anggota kedua pihak yang bertempur serta sejumlah warga sipil yang terjebak dalam kekerasan selama beberapa hari terakhir. Pertempuran terkonsentrasi di Provinsi Taiz dan Hodeidah yang memiliki posisi strategis menuju kawasan Laut Merah. Eskalasi terbaru menjadi salah satu pertempuran paling mematikan sejak gencatan senjata 2022 runtuh pada Juli lalu. Kedua pihak mengerahkan pasukan dalam jumlah besar dan menggunakan berbagai jenis persenjataan dalam perebutan wilayah. Pertempuran juga memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik Yaman kembali bergerak menuju perang berskala lebih luas.
Gelombang pertempuran terbaru bermula ketika Houthi melancarkan serangan besar pada Kamis, 3 September 2026, terhadap sejumlah posisi pasukan pemerintah di wilayah barat daya Yaman. Serangan diarahkan ke kawasan yang mempunyai akses menuju Kota Pelabuhan Mokha serta Selat Bab al-Mandab. Houthi berusaha menekan pertahanan pasukan pemerintah dan memutus jalur yang menghubungkan Taiz dengan Mokha. Seorang pejabat militer pemerintah mengatakan kelompok tersebut sempat berhasil memutus jalur utama Taiz-Mokha pada Sabtu malam. Pada saat bersamaan, pasukan pemerintah melakukan serangan balasan dan berusaha merebut kembali sejumlah posisi strategis. Pertempuran kemudian meluas ke beberapa garis depan di Taiz bagian barat dan Hodeidah bagian selatan. Kondisi medan yang berubah dengan cepat membuat penguasaan sejumlah wilayah terus diperebutkan kedua pihak.
Jumlah korban meningkat tajam sepanjang akhir pekan setelah pertempuran memasuki fase yang semakin intensif. Dua pejabat militer dari pasukan pemerintah menyatakan sedikitnya 84 anggota mereka tewas dalam pertempuran antara Sabtu siang hingga Minggu dini hari. Sebagian besar korban dari pihak pemerintah disebut tewas akibat serangan rudal. Sementara itu, empat sumber militer dari pihak Houthi menyebut sedikitnya 57 anggota kelompok tersebut tewas dalam periode yang sama. Jika digabungkan dengan korban sejak pertempuran dimulai pada Kamis, jumlah korban tewas dari kedua kubu serta warga sipil telah melampaui 300 orang. Angka tersebut dihimpun berdasarkan keterangan sejumlah sumber militer dan medis dari kedua pihak sehingga masih dapat berubah seiring berlanjutnya pertempuran. Belum tersedia angka tunggal yang dapat menggambarkan secara pasti keseluruhan korban karena akses ke sejumlah kawasan pertempuran masih terbatas.
Pasukan pemerintah Yaman mengklaim berhasil melakukan kemajuan di sejumlah garis depan setelah melancarkan operasi balasan. Mereka menyatakan telah merebut beberapa posisi di wilayah Al-Kadha, sebelah barat Taiz, serta memperkuat kedudukan baru di bagian selatan Hodeidah. Pasukan pemerintah juga mengaku menggagalkan upaya penyusupan Houthi di front Al-Dhabab, sebelah barat Taiz. Pertempuran di kawasan tersebut dilaporkan menyebabkan tambahan korban di pihak Houthi, meskipun angka yang disampaikan masing-masing kubu belum dapat diverifikasi secara independen. Di wilayah Hays, pasukan pemerintah juga berusaha memperluas posisi ke arah utara setelah berlangsungnya pertempuran sengit. Namun, Houthi pada saat bersamaan dilaporkan tetap melakukan kemajuan di sejumlah kawasan sebelah barat Taiz. Perubahan penguasaan wilayah tersebut menunjukkan belum ada pihak yang sepenuhnya mampu mengendalikan jalannya pertempuran.
Operasi darat berlangsung bersamaan dengan serangkaian serangan udara terhadap posisi Houthi. Pasukan pemerintah Yaman menyatakan telah melakukan sedikitnya 13 serangan udara terhadap lokasi, kendaraan, dan konsentrasi pasukan Houthi di beberapa wilayah. Sasaran berada di Provinsi Al-Bayda, Taiz, Hodeidah, Marib, Al-Dhalea, dan Al-Jawf. Salah satu sasaran yang diklaim berhasil dihantam adalah fasilitas peluncuran rudal serta pusat komando dan pengendalian. Serangan udara juga diarahkan terhadap posisi Houthi yang digunakan untuk mendukung operasi di garis depan. Houthi pada sisi lain tetap menggunakan rudal dan persenjataan lainnya untuk menyerang posisi pasukan pemerintah. Intensitas serangan dari kedua kubu membuat kekhawatiran terhadap bertambahnya korban sipil semakin meningkat.
Perebutan wilayah menuju Mokha dan Bab al-Mandab menjadi salah satu faktor yang membuat pertempuran kali ini mempunyai nilai strategis tinggi. Mokha berada di pesisir Laut Merah dan menjadi salah satu wilayah penting yang masih berada di bawah kendali pasukan pemerintah Yaman. Sementara Bab al-Mandab merupakan jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Jalur tersebut mempunyai peranan besar dalam perdagangan internasional karena menjadi bagian dari rute pelayaran antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez. Houthi saat ini tidak menguasai secara langsung kawasan pesisir Bab al-Mandab, tetapi menguasai Hodeidah yang berada lebih jauh di sebelah utara. Pergerakan menuju wilayah tersebut karena itu mendapatkan perhatian besar dari pemerintah Yaman dan negara-negara kawasan. Perubahan penguasaan wilayah di sekitar selat berpotensi mempunyai dampak yang jauh melampaui konflik domestik Yaman.
Pertempuran juga menimbulkan gelombang pengungsian baru di tengah kondisi kemanusiaan Yaman yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sekitar 1.790 keluarga dilaporkan meninggalkan rumah mereka setelah terjadi penembakan dan pertempuran intensif di Distrik Maqbanah dan Jabal Habashi. Sebagian warga mencari perlindungan di kamp Al-Bareen dan sejumlah lokasi pengungsian lain yang dianggap lebih aman. Mereka membawa kasur, pakaian, ternak, dan barang yang masih dapat diselamatkan ketika meninggalkan kawasan pertempuran. Sejumlah keluarga terpaksa pergi secara mendadak ketika tembakan mulai mendekati permukiman. Kondisi pengungsian menimbulkan kebutuhan baru terhadap makanan, air bersih, tempat berlindung, layanan kesehatan, dan perlindungan bagi anak-anak. Apabila pertempuran berlangsung lama, jumlah warga yang harus meninggalkan rumah diperkirakan dapat terus meningkat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyampaikan kekhawatiran terhadap eskalasi yang kembali terjadi di Yaman. Konflik baru dikhawatirkan menimbulkan konsekuensi politik, ekonomi, keamanan, dan kemanusiaan yang semakin berat bagi masyarakat. Yaman sebelumnya telah mengalami perang panjang yang membuat jutaan penduduk bergantung pada bantuan kemanusiaan. Gencatan senjata yang mulai diberlakukan pada 2022 sempat menurunkan intensitas pertempuran besar meskipun tidak menghasilkan penyelesaian politik permanen. Situasi kembali memburuk setelah gencatan senjata rapuh tersebut runtuh pada Juli 2026. Sejak saat itu, bentrokan di sejumlah garis depan kembali meningkat dan hubungan Houthi dengan pihak-pihak yang mendukung pemerintah Yaman semakin tegang. Pertempuran sejak awal September memperlihatkan bahwa ruang untuk menahan eskalasi kini semakin menyempit.
Konflik terbaru juga berlangsung ketika situasi keamanan regional mengalami peningkatan ketegangan. Houthi sebelumnya mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan meningkatkan ancaman terhadap kapal maupun kepentingan yang dianggap berkaitan dengan Riyadh. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mendapatkan dukungan dari Arab Saudi dan sejumlah mitranya. Sementara Houthi selama bertahun-tahun mempunyai hubungan dekat dengan Iran, meskipun kelompok tersebut tetap mempunyai struktur politik dan militer sendiri di Yaman. Ketegangan regional membuat konflik domestik Yaman semakin berkaitan dengan persaingan keamanan yang lebih luas di Timur Tengah. Posisi Bab al-Mandab juga membuat perkembangan militer di Yaman mempunyai implikasi langsung terhadap keamanan pelayaran internasional. Karena itu, eskalasi di Taiz dan Hodeidah terus mendapatkan perhatian negara-negara yang berkepentingan terhadap keamanan Laut Merah.
Pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir meskipun intensitas pertempuran sempat menurun pada Minggu dini hari. Kedua pihak masih mempertahankan posisi dan melakukan operasi di sejumlah garis depan strategis. Korban yang telah melampaui 300 orang dalam hitungan hari memperlihatkan besarnya eskalasi dibandingkan bentrokan sebelumnya. Ribuan warga yang mengungsi juga menghadapi ketidakpastian mengenai kapan mereka dapat kembali ke rumah. Perebutan akses menuju Mokha dan Bab al-Mandab diperkirakan tetap menjadi salah satu titik utama pertempuran karena nilai strategis kawasan tersebut. Jika upaya diplomasi tidak mampu menghentikan eskalasi, konflik berisiko meluas ke wilayah lain dan semakin memperburuk krisis kemanusiaan Yaman. Perkembangan beberapa hari mendatang akan menentukan apakah pertempuran dapat kembali diredam atau justru berkembang menjadi babak baru perang besar di negara tersebut.