Jakarta, 7 September 2026 – PSSI menilai penerapan Video Assistant Referee atau VAR memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan akurasi keputusan wasit dalam kompetisi sepak bola profesional Indonesia. Berdasarkan evaluasi terhadap kompetisi musim 2025-2026, sekitar 92 persen keputusan penting dinilai telah diambil dengan benar, sementara keputusan yang dikategorikan salah berada di kisaran delapan persen. Kepala Departemen Wasit PSSI Pratap Singh mengatakan teknologi VAR membantu perangkat pertandingan ketika menghadapi insiden penting yang berpotensi memengaruhi jalannya maupun hasil akhir pertandingan. Penilaian tersebut mencakup keputusan yang langsung diambil wasit di lapangan serta keputusan yang kemudian dikoreksi setelah intervensi VAR. Data itu dipaparkan dalam Refereeing Workshop for Media yang berlangsung di Jakarta pada Kamis, 3 September 2026. Meski tingkat ketepatan telah meningkat, PSSI menegaskan delapan persen keputusan yang masih keliru tetap menjadi fokus evaluasi untuk kompetisi musim 2026-2027.
Pada Super League musim 2025-2026, PSSI mencatat terdapat 306 pertandingan yang menjadi bagian dari evaluasi kinerja perangkat pertandingan. Dari seluruh pertandingan tersebut ditemukan 346 insiden kunci atau keputusan besar yang berpotensi memberikan pengaruh terhadap hasil pertandingan. Sebanyak 314 dari 346 keputusan tersebut dinilai telah diidentifikasi secara tepat oleh perangkat pertandingan. Keputusan benar dapat berasal dari keputusan awal wasit maupun setelah adanya rekomendasi VAR untuk melakukan peninjauan kembali terhadap suatu insiden. Dengan jumlah tersebut, tingkat ketepatan keputusan pada insiden penting berada di atas 90 persen. Angka ini menjadi salah satu indikator yang digunakan PSSI untuk menilai perkembangan penerapan VAR di kompetisi domestik.
Evaluasi serupa dilakukan terhadap Championship atau kompetisi kasta kedua pada musim 2025-2026. Kompetisi tersebut memainkan 273 pertandingan dengan total 331 insiden kunci yang masuk dalam penilaian. Dari jumlah tersebut, sebanyak 305 keputusan dinyatakan tepat, sedangkan 26 lainnya dikategorikan tidak tepat. Persentase keputusan benar dengan demikian juga berada pada kisaran 92 persen. Data dari dua level kompetisi tersebut menunjukkan pola bahwa sebagian besar keputusan penting telah dapat diselesaikan secara tepat. Namun, PSSI tidak menjadikan angka tersebut sebagai alasan untuk mengurangi proses pengawasan terhadap kinerja perangkat pertandingan.
Pratap menjelaskan VAR mempunyai fungsi membantu wasit ketika menghadapi empat kategori utama yang telah ditentukan dalam protokol teknologi tersebut. Situasi yang dapat ditinjau meliputi gol atau tidak gol, keputusan penalti atau tidak penalti, kartu merah langsung, serta kesalahan identitas pemain. Teknologi tersebut bukan digunakan untuk meninjau seluruh keputusan kecil yang terjadi sepanjang pertandingan. Prinsip utamanya tetap menempatkan wasit di lapangan sebagai pengambil keputusan. Tim VAR melakukan pemeriksaan ketika terdapat kemungkinan kesalahan yang jelas dan nyata atau insiden serius yang terlewat. Dalam situasi tertentu, wasit utama dapat direkomendasikan melakukan on-field review melalui monitor di sisi lapangan sebelum menentukan keputusan akhir.
Penerapan VAR juga tidak berarti seluruh keputusan kontroversial otomatis dapat diperbaiki. Kualitas gambar dan sudut pandang kamera menjadi faktor penting ketika tim VAR melakukan pemeriksaan. Ketua Komite Wasit PSSI Yoshimi Ogawa sebelumnya menjelaskan kompetisi Super League menggunakan sekitar 13 titik kamera VAR, sementara pertandingan dengan fasilitas lebih lengkap dapat memiliki jauh lebih banyak sudut pandang. Keterbatasan sudut kamera dapat membuat suatu insiden tidak mempunyai bukti visual yang cukup untuk mengubah keputusan awal wasit. Dalam kondisi ketika tidak tersedia bukti yang jelas dan meyakinkan, keputusan yang telah dibuat di lapangan harus dipertahankan. Prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam penggunaan VAR agar teknologi tidak mengambil alih seluruh kewenangan wasit.
PSSI sebelumnya juga menyoroti kebutuhan penambahan kamera untuk meningkatkan efektivitas VAR. Kamera tambahan, terutama pada area strategis seperti garis gawang, dapat menyediakan sudut pandang berbeda terhadap suatu kejadian. Salah satu persoalan yang sulit ditentukan hanya menggunakan satu sudut kamera adalah apakah keseluruhan bagian bola sudah melewati garis atau masih berada di dalam lapangan. Semakin banyak sudut pandang yang tersedia, semakin besar peluang tim VAR memperoleh bukti visual yang cukup untuk membuat rekomendasi. Namun, penambahan perangkat juga berkaitan dengan kesiapan infrastruktur dan biaya operasional kompetisi. Karena itu, pengembangan VAR perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi penyelenggaraan liga.
Selain teknologi, kualitas individu wasit tetap menjadi perhatian karena VAR hanya berfungsi sebagai alat bantu. PSSI tidak ingin perangkat pertandingan menjadi terlalu bergantung pada teknologi dalam mengambil keputusan. Wasit tetap dituntut mempunyai posisi yang tepat, kebugaran prima, pemahaman terhadap Laws of the Game, serta kemampuan membaca situasi pertandingan. Asisten wasit juga harus tetap menjalankan tugas secara aktif meskipun berbagai kejadian dapat diperiksa melalui rekaman video. Posisi yang tepat memberikan sudut pandang lebih baik sehingga keputusan awal dapat dibuat dengan tingkat akurasi tinggi. VAR idealnya menjadi lapisan tambahan untuk mencegah kesalahan besar, bukan menggantikan kemampuan perangkat pertandingan di lapangan.
Upaya meningkatkan kualitas tersebut turut dilakukan melalui peningkatan standar kebugaran wasit. Komite Wasit PSSI mencatat tingkat kelulusan tes kebugaran wasit C1 dan C2 yang bertugas di kompetisi level bawah mencapai 91,2 persen pada musim 2026-2027. Angka tersebut meningkat dari 68,5 persen pada musim sebelumnya. Pada kelompok asisten wasit, tingkat kelulusan meningkat dari 74,3 persen menjadi 97,8 persen. Wasit dituntut memiliki kondisi fisik menyerupai atlet karena dalam pertandingan selama 90 menit mereka dapat bergerak sejauh sekitar 11 hingga 12 kilometer. Kebugaran yang baik memungkinkan wasit terus berada dekat dengan kejadian sehingga mempunyai sudut pandang lebih baik ketika mengambil keputusan.
Meski sekitar 92 persen keputusan penting telah dinilai tepat, Departemen Wasit PSSI justru memberikan perhatian khusus terhadap sekitar delapan persen keputusan yang masih salah. Setiap keputusan tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui penyebab kesalahan, baik yang berkaitan dengan posisi wasit, interpretasi peraturan, komunikasi perangkat pertandingan, maupun keterbatasan teknologi. Pratap menilai satu keputusan keliru tetap dapat memberikan konsekuensi besar apabila terjadi dalam situasi menentukan seperti penalti, kartu merah, atau proses terjadinya gol. Karena itu, target pengembangan perangkat pertandingan tidak berhenti setelah persentase ketepatan melewati 90 persen. PSSI menginginkan akurasi terus ditingkatkan mendekati tingkat maksimal.
Penggunaan VAR di sepak bola Indonesia pada akhirnya dipandang sebagai bagian dari proses yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas dan kredibilitas kompetisi. Teknologi dapat membantu mengurangi kesalahan besar, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada kualitas wasit, petugas VAR, jumlah dan posisi kamera, serta konsistensi penerapan protokol. Catatan sekitar 92 persen keputusan benar pada musim 2025-2026 memberikan indikator positif, sementara delapan persen keputusan yang masih keliru menjadi pekerjaan rumah memasuki musim berikutnya. PSSI menargetkan evaluasi dan pendidikan perangkat pertandingan terus dilakukan agar tingkat akurasi semakin meningkat. Pengembangan infrastruktur VAR juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan untuk menyediakan bukti visual lebih lengkap dalam insiden sulit. Dengan kombinasi teknologi, pendidikan, kebugaran, dan evaluasi berkelanjutan, kualitas pengambilan keputusan wasit di kompetisi Indonesia diharapkan semakin konsisten.