Jakarta, 28 Agustus 2026 – PT PLN Indonesia Power (PLN IP) memperkuat pengembangan energi surya untuk mendukung program pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas total 100 GWp dalam tiga tahun.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan sejumlah proyek PLTS di berbagai wilayah Indonesia. PLN IP menilai percepatan energi surya membutuhkan penguatan kemampuan teknologi, inovasi, serta kolaborasi dengan mitra strategis agar pembangkit energi bersih dapat memberikan nilai tambah bagi sistem kelistrikan nasional.
Empat Proyek PLTS Jadi Portofolio PLN IP
PLN IP saat ini memiliki portofolio empat proyek energi surya dengan total kapasitas sekitar 490,2 MWp.
Portofolio tersebut mencakup PLTS Terapung Gajah Mungkur sebesar 134,2 MWp, PLTS Terapung Saguling 92 MWp, PLTS Pasuruan 132 MWp, serta PLTS Banyuwangi 132 MWp.
Pengembangan proyek dilakukan bersama mitra strategis dengan mempertimbangkan kebutuhan sistem kelistrikan dan karakteristik setiap wilayah.
PLN IP Siap Ambil Peran Strategis
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan perusahaan siap mengambil peran aktif dalam mempercepat pengembangan energi bersih nasional.
Menurutnya, pengembangan PLTS tidak sekadar berkaitan dengan penambahan kapasitas pembangkit energi terbarukan. Infrastruktur, kapabilitas, inovasi teknologi, dan kerja sama antarpihak juga diperlukan untuk memastikan energi surya dapat diintegrasikan secara andal ke dalam sistem ketenagalistrikan.
PLN IP akan mengoptimalkan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki untuk mengembangkan potensi energi surya di berbagai daerah.
Pemerintah Kejar 100 GWp dalam Tiga Tahun
Program PLTS 100 GWp resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2026 di Gilimanuk, Jembrana, Bali.
Program tersebut diawali dengan pembangunan 14 PLTS di enam provinsi dengan kapasitas gabungan 5,3 GWp. Enam provinsi tersebut meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.
Pemerintah menargetkan kapasitas 100 GWp tersebut dapat dibangun dalam waktu sekitar tiga tahun. Program ini menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber energi terbarukan.
Investasi Capai Rp1.120 Triliun
Percepatan pembangunan PLTS 100 GWp membutuhkan investasi yang sangat besar. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut kebutuhan investasi program tersebut mencapai sekitar US$73 miliar atau setara Rp1.120 triliun.
Program tersebut juga diproyeksikan memiliki dampak ekonomi melalui penciptaan sekitar 5,52 juta lapangan kerja serta potensi penurunan emisi hingga 120 juta ton CO₂ per tahun.
Pemerintah berharap proyek tersebut turut meningkatkan penggunaan sumber daya dan industri dalam negeri sehingga manfaat transisi energi dapat dirasakan lebih luas.
Dorong Kemandirian Energi
Pengembangan energi surya menjadi salah satu upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan impor bahan bakar.
Ketersediaan sumber energi matahari yang melimpah membuat Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional.
Kementerian ESDM juga menekankan bahwa Indonesia telah memiliki industri panel surya serta sistem penyimpanan energi baterai di dalam negeri yang dapat mendukung pengembangan PLTS secara lebih mandiri.
Kolaborasi Jadi Kunci
PLN IP menilai pencapaian target 100 GWp membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Pengembangan proyek tidak hanya melibatkan perusahaan listrik, tetapi juga pemerintah, investor, pengembang teknologi, manufaktur, serta mitra strategis lainnya.
Dengan portofolio proyek yang telah berjalan, PLN IP berupaya memperluas pengalaman dalam pengembangan pembangkit surya sekaligus mendukung kebutuhan sistem kelistrikan di berbagai wilayah.
PLN Indonesia Power memperkuat portofolio energi surya sebesar 490,2 MWp melalui empat proyek PLTS untuk mendukung target pemerintah membangun 100 GWp dalam tiga tahun. Percepatan tersebut diharapkan memperkuat ketahanan energi, mengurangi ketergantungan terhadap energi impor, sekaligus mendorong transformasi menuju sistem kelistrikan yang lebih bersih dan berkelanjutan.