Jakarta, 3 Agustus 2026 – Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa surplus perdagangan sektor nonmigas terus memberikan kontribusi penting dalam menekan defisit neraca perdagangan Indonesia. Kinerja positif dari ekspor berbagai komoditas nonmigas dinilai mampu menjadi penopang utama keseimbangan perdagangan nasional di tengah dinamika ekonomi global yang masih berlangsung. Menurut BI, capaian tersebut menunjukkan bahwa sektor nonmigas tetap memiliki daya saing yang kuat sehingga mampu mengimbangi tekanan yang berasal dari perdagangan migas. Kondisi ini juga mencerminkan peran penting diversifikasi ekspor dalam menjaga stabilitas sektor eksternal perekonomian Indonesia.
Surplus perdagangan nonmigas diperoleh dari kinerja berbagai sektor yang terus mencatatkan permintaan ekspor yang relatif baik di pasar internasional. Komoditas hasil industri pengolahan, pertanian, perkebunan, hingga produk berbasis sumber daya alam masih menjadi kontributor utama terhadap nilai ekspor nasional. Di sisi lain, aktivitas industri dalam negeri juga terus didorong untuk meningkatkan nilai tambah melalui proses hilirisasi sehingga produk yang dipasarkan ke luar negeri memiliki daya saing yang lebih tinggi. Langkah tersebut dinilai mampu memperkuat struktur ekspor Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap komoditas tertentu.
Sementara itu, sektor migas masih menghadapi tantangan akibat tingginya kebutuhan impor untuk memenuhi permintaan energi di dalam negeri. Fluktuasi harga energi global serta kebutuhan bahan bakar dan produk turunannya turut memengaruhi neraca perdagangan migas. Dalam kondisi tersebut, surplus yang dihasilkan sektor nonmigas berperan sebagai penyeimbang sehingga tekanan terhadap neraca perdagangan secara keseluruhan dapat diminimalkan. BI menilai keseimbangan antara kinerja ekspor dan impor menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Bank Indonesia juga menegaskan bahwa kondisi sektor eksternal Indonesia tetap dipantau secara cermat mengingat perkembangan ekonomi dunia masih dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perlambatan pertumbuhan di sejumlah negara, perubahan kebijakan moneter global, hingga dinamika perdagangan internasional. Berbagai kondisi tersebut dapat memengaruhi permintaan ekspor maupun pergerakan harga komoditas yang menjadi andalan Indonesia. Oleh karena itu, koordinasi antara otoritas moneter dan pemerintah terus diperkuat untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional menghadapi berbagai tantangan global.
Pengamat ekonomi menjelaskan bahwa surplus perdagangan nonmigas memiliki peran strategis dalam mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat cadangan devisa negara. Ketika ekspor mampu menghasilkan devisa yang lebih besar dibandingkan impor pada sektor nonmigas, kondisi tersebut memberikan ruang yang lebih baik bagi perekonomian dalam menghadapi tekanan eksternal. Selain itu, surplus perdagangan juga mencerminkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional yang tetap terjaga meskipun persaingan global semakin ketat. Faktor tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan sektor eksternal suatu negara.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong penguatan struktur ekspor melalui pengembangan industri hilir, diversifikasi pasar ekspor, serta peningkatan kualitas produk nasional. Berbagai kebijakan diarahkan agar pelaku usaha mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi sehingga tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Perluasan pasar ke berbagai kawasan juga menjadi strategi penting untuk mengurangi risiko ketergantungan terhadap negara tujuan ekspor tertentu. Dengan langkah tersebut, kinerja perdagangan diharapkan semakin tangguh menghadapi perubahan kondisi ekonomi global.
Pelaku usaha juga diharapkan terus meningkatkan efisiensi produksi, inovasi, dan kualitas produk agar mampu mempertahankan daya saing di pasar internasional. Pemanfaatan teknologi, peningkatan produktivitas, serta penguatan rantai pasok domestik menjadi faktor yang dinilai mampu mendukung pertumbuhan ekspor nonmigas dalam jangka panjang. Selain itu, kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta diperlukan untuk membuka peluang pasar baru serta memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global. Upaya tersebut akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.
Pernyataan Bank Indonesia mengenai peran surplus perdagangan nonmigas dalam menekan defisit neraca perdagangan menunjukkan pentingnya sektor ekspor sebagai penopang stabilitas ekonomi nasional. Kinerja positif ekspor nonmigas memberikan ruang bagi Indonesia untuk menghadapi tekanan yang berasal dari sektor migas maupun dinamika ekonomi global. Dengan terus memperkuat hilirisasi industri, memperluas pasar ekspor, dan meningkatkan daya saing produk nasional, Indonesia diharapkan mampu menjaga keseimbangan perdagangan sekaligus memperkokoh ketahanan ekonomi di tengah berbagai tantangan global yang terus berkembang.