Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal 1448 H pada 9 Maret 2027, Ini Dasar Perhitungannya

Jakarta, 18 September 2026 – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan Hari Raya Idulfitri atau 1 Syawal 1448 Hijriah jatuh pada Selasa, 9 Maret 2027. Penetapan tersebut menjadi bagian dari kalender Hijriah yang disusun Muhammadiyah menggunakan metode hisab astronomis. Dengan penetapan ini, warga Muhammadiyah dapat mengetahui jadwal hari besar Islam jauh sebelum waktunya. Kepastian tanggal juga membantu masyarakat mempersiapkan kegiatan ibadah, perjalanan mudik serta berbagai agenda keluarga. Penetapan dilakukan berdasarkan perhitungan posisi benda langit yang menjadi dasar kalender Hijriah. Muhammadiyah menggunakan sistem kalender yang memungkinkan tanggal-tanggal penting keagamaan ditentukan lebih awal.

Penetapan Idulfitri tersebut berkaitan dengan penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal yang dikembangkan Muhammadiyah. Sistem ini menggunakan perhitungan astronomis dengan prinsip satu kalender untuk seluruh dunia. Pendekatan tersebut berbeda dari penentuan awal bulan yang bergantung pada pengamatan hilal secara lokal di masing-masing wilayah. Data astronomi mengenai posisi Matahari dan Bulan menjadi unsur penting dalam menentukan pergantian bulan Hijriah. Dengan perhitungan tersebut, awal Ramadan, Syawal dan Zulhijah dapat diproyeksikan sejak jauh hari. Muhammadiyah memandang kepastian kalender penting untuk mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan secara terencana.

Sebelum Idulfitri, Muhammadiyah juga menetapkan awal Ramadan 1448 H sebagai bagian dari kalender yang sama. Rangkaian tanggal tersebut menentukan lamanya pelaksanaan ibadah puasa sebelum memasuki 1 Syawal. Penetapan sejak dini memberi waktu bagi masjid, sekolah, perguruan tinggi serta berbagai lembaga di lingkungan Muhammadiyah untuk menyusun agenda Ramadan. Kegiatan seperti salat tarawih, kajian, zakat hingga pelaksanaan salat Id dapat dipersiapkan berdasarkan kalender tersebut. Masyarakat juga dapat mengatur perjalanan dan aktivitas pekerjaan dengan lebih terencana. Kalender menjadi pedoman internal yang digunakan dalam berbagai kegiatan organisasi dan keagamaan.

Metode yang digunakan Muhammadiyah dapat menghasilkan tanggal berbeda dengan keputusan pemerintah Indonesia. Pemerintah selama ini menetapkan awal Ramadan, Idulfitri dan Iduladha melalui sidang isbat yang melibatkan Kementerian Agama serta berbagai organisasi dan pakar terkait. Sidang tersebut mempertimbangkan data hisab sekaligus hasil pemantauan hilal dari sejumlah lokasi. Karena pendekatan yang digunakan tidak sepenuhnya sama, perbedaan tanggal pelaksanaan hari raya tetap mungkin terjadi. Perbedaan semacam itu juga pernah muncul pada tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat diharapkan menghormati pilihan metode dan keputusan keagamaan yang digunakan masing-masing pihak.

Penetapan Idulfitri pada 9 Maret 2027 juga menunjukkan penerapan sistem kalender jangka panjang yang menjadi salah satu perhatian Muhammadiyah. Organisasi tersebut mendorong kalender Islam yang dapat digunakan secara konsisten untuk kepentingan ibadah maupun aktivitas sosial. Kepastian tanggal dinilai memberikan manfaat dalam perencanaan kegiatan pendidikan, ekonomi dan perjalanan. Pada saat yang sama, perkembangan teknologi astronomi memungkinkan posisi Bulan dan Matahari dihitung dengan tingkat ketelitian tinggi. Data tersebut kemudian diterapkan dalam kriteria kalender yang telah ditentukan. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah mengintegrasikan kajian keagamaan dengan ilmu astronomi.

Meskipun Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1448 H pada 9 Maret 2027, keputusan resmi pemerintah mengenai Idulfitri 2027 akan ditentukan mendekati akhir Ramadan melalui mekanisme yang berlaku. Karena itu, masih terdapat kemungkinan adanya perbedaan tanggal antara keputusan Muhammadiyah dan pemerintah. Kepastian tersebut baru dapat diketahui setelah seluruh proses penetapan masing-masing pihak dilakukan. Muhammadiyah sendiri akan menggunakan kalender yang telah ditetapkan sebagai pedoman bagi warga dan lembaga di bawah organisasinya. Masyarakat dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk mempersiapkan Ramadan dan Idulfitri sejak jauh hari. Perbedaan metode penetapan diharapkan tetap disikapi dengan saling menghormati dan menjaga kebersamaan.