Sukabumi, 9 Juni 2026 – Program pertanian yang dijalankan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, mendapat respons positif dari para warga binaan yang mengikuti kegiatan tersebut. Melalui program pembinaan berbasis pertanian, para narapidana diberikan kesempatan untuk belajar sekaligus terlibat langsung dalam berbagai aktivitas bercocok tanam selama menjalani masa pidana. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana produktif untuk mengisi waktu di dalam lapas, tetapi juga dianggap mampu memberikan bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat. Sejumlah warga binaan mengaku merasa lebih termotivasi karena memiliki kesempatan untuk mempelajari keahlian baru yang bernilai ekonomi. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemasyarakatan yang menekankan pembinaan dan pemberdayaan sebagai langkah persiapan reintegrasi sosial.
Di area pertanian yang telah disiapkan oleh pihak lapas, warga binaan terlibat dalam berbagai tahapan budidaya tanaman, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga proses panen. Aktivitas tersebut dilakukan dengan pendampingan petugas dan tenaga yang memiliki kompetensi di bidang pertanian. Selain memberikan pengetahuan teknis, kegiatan ini juga mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, serta kerja sama dalam menyelesaikan tugas secara kolektif. Banyak peserta program mengaku merasakan manfaat langsung karena dapat mengembangkan kemampuan yang sebelumnya tidak mereka miliki. Pengalaman tersebut dinilai menjadi bekal berharga untuk membuka peluang usaha atau pekerjaan setelah masa pembinaan berakhir.
Pihak Lapas Warungkiara menjelaskan bahwa program pertanian merupakan salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan warga binaan. Selain sektor pertanian, berbagai lapas di Indonesia juga mengembangkan program pelatihan lain sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing daerah. Tujuan utama dari kegiatan tersebut adalah memberikan kemampuan praktis yang dapat membantu warga binaan beradaptasi kembali dengan kehidupan masyarakat setelah menyelesaikan masa hukuman. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pemasyarakatan modern yang tidak hanya berfokus pada aspek penegakan hukum, tetapi juga pada proses pembinaan dan pengembangan kapasitas individu. Dengan demikian, warga binaan memiliki kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Sejumlah warga binaan mengungkapkan bahwa kegiatan bertani memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan rutinitas harian lainnya di dalam lapas. Selain memberikan aktivitas yang produktif, kegiatan tersebut juga dianggap membantu mengurangi tekanan psikologis selama menjalani masa pidana. Berinteraksi dengan lahan pertanian dan melihat perkembangan tanaman dari waktu ke waktu memberikan rasa pencapaian tersendiri bagi mereka. Banyak peserta merasa lebih optimistis karena memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk mencari nafkah secara mandiri di masa depan. Pengalaman tersebut turut membangun kepercayaan diri dan semangat untuk memperbaiki kehidupan setelah bebas nanti.
Kalangan pemerhati pemasyarakatan menilai bahwa program pembinaan berbasis keterampilan memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan proses reintegrasi sosial. Salah satu tantangan yang sering dihadapi mantan narapidana adalah keterbatasan akses terhadap pekerjaan setelah kembali ke masyarakat. Oleh karena itu, pemberian pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dinilai dapat membantu mengurangi hambatan tersebut. Pertanian menjadi salah satu bidang yang memiliki potensi besar karena relatif mudah diterapkan di berbagai daerah dan dapat dijalankan secara mandiri. Dengan bekal keterampilan yang memadai, peluang untuk membangun kehidupan yang lebih stabil menjadi semakin terbuka.
Selain memberikan manfaat bagi warga binaan, program pertanian juga dinilai mampu mendukung pemanfaatan lahan yang tersedia di lingkungan lapas secara produktif. Hasil pertanian yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sesuai ketentuan yang berlaku. Di beberapa lapas, kegiatan serupa bahkan berkembang menjadi sarana pembelajaran yang melibatkan berbagai jenis komoditas pertanian. Pengembangan program yang berkelanjutan diharapkan dapat menciptakan lingkungan pembinaan yang lebih produktif dan memberikan pengalaman nyata kepada peserta. Karena itu, dukungan terhadap program semacam ini terus diperkuat oleh berbagai pihak.
Pengamat sosial menilai bahwa keberhasilan program pembinaan tidak hanya diukur dari keterampilan teknis yang diberikan, tetapi juga dari perubahan sikap dan pola pikir warga binaan. Kegiatan yang melibatkan tanggung jawab, kerja keras, dan proses yang berkelanjutan dapat membantu membentuk karakter yang lebih positif. Pertanian dinilai memiliki nilai edukatif karena mengajarkan pentingnya kesabaran, konsistensi, dan perencanaan dalam mencapai hasil. Nilai-nilai tersebut dianggap relevan dengan tujuan pemasyarakatan yang berorientasi pada perbaikan diri dan persiapan kembali ke masyarakat. Oleh sebab itu, program berbasis pertanian mendapat perhatian sebagai salah satu model pembinaan yang efektif.
Ke depan, program pertanian di Lapas Warungkiara diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi warga binaan. Antusiasme para peserta menunjukkan bahwa kegiatan produktif yang disertai pelatihan keterampilan mampu memberikan dampak positif selama masa pembinaan. Pihak lapas berkomitmen untuk terus mengembangkan berbagai program yang mendukung kemandirian dan kesiapan warga binaan dalam menghadapi kehidupan setelah bebas. Dengan keterampilan yang diperoleh, para peserta diharapkan memiliki peluang yang lebih besar untuk membangun masa depan yang lebih baik dan produktif. Pada akhirnya, keberhasilan program ini menjadi bagian dari upaya menciptakan sistem pemasyarakatan yang tidak hanya berorientasi pada hukuman, tetapi juga pada pembinaan, pemberdayaan, dan kesempatan kedua bagi setiap warga binaan untuk kembali berkontribusi di tengah masyarakat.