Jakarta, 21 Oktober 2026 – Mantan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Jenderal TNI (Purn) Leonardus Benyamin Moerdani atau Benny Moerdani, memiliki kisah menarik ketika mendapatkan tawaran hadiah mobil mewah dari Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah. Peristiwa tersebut terjadi menjelang berakhirnya masa jabatan Benny sebagai Panglima ABRI pada era pemerintahan Presiden Soeharto. Meski mendapatkan kesempatan memiliki kendaraan mahal secara cuma-cuma, jenderal yang memiliki latar belakang pasukan khusus tersebut justru memilih menolaknya. Penolakan itu disampaikan dengan cara yang sopan, tetapi tetap menunjukkan keteguhan sikapnya. Bahkan, salah satu alasan yang dikemukakan Benny berhasil membuat Sultan Hassanal Bolkiah tertawa karena ia mengaku tidak sanggup membeli bahan bakar kendaraan tersebut.
Kisah tersebut tercatat dalam buku Belajar Uji Nyali dari Benny Moerdani yang mengangkat berbagai pengalaman dan perjalanan karier salah satu tokoh militer Indonesia tersebut. Dalam cerita itu, Benny melakukan kunjungan ke Brunei Darussalam ketika masih menjabat sebagai Panglima ABRI. Kedatangannya mendapatkan sambutan hangat dari Sultan Hassanal Bolkiah yang dikenal memiliki hubungan baik dengan sejumlah pemimpin Indonesia. Hubungan keduanya tidak terlepas dari peran Benny dalam membantu mempererat kerja sama antara Indonesia dan Brunei Darussalam. Sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusi tersebut, Sultan berniat memberikan hadiah berupa sebuah mobil mewah. Namun, tawaran yang terlihat menggiurkan itu justru mendapatkan penolakan dari Benny.
Ketika Sultan Hassanal Bolkiah menyampaikan keinginannya memberikan kendaraan mewah, Benny langsung menjelaskan bahwa dirinya tidak dapat menerima hadiah tersebut. Ia beralasan bahwa kedudukannya sebagai Panglima ABRI membuatnya harus menjaga batasan dalam menerima pemberian dari pihak lain. Menurut kisah yang tercatat, Benny menyampaikan penolakan dengan tetap menggunakan bahasa yang menghormati Sultan Brunei. Sikap tersebut memperlihatkan kehati-hatiannya dalam membedakan hubungan pribadi dengan tanggung jawab jabatan yang sedang diemban. Namun, Sultan Hassanal Bolkiah tidak langsung menghentikan tawarannya. Sang Sultan kemudian menjelaskan bahwa mobil tersebut diberikan kepada Benny sebagai pribadi, bukan sebagai pejabat militer Indonesia.
Mendengar penjelasan tersebut, Benny tetap tidak mengubah keputusannya untuk menolak pemberian mobil. Kali ini, ia menggunakan alasan yang lebih ringan dengan mengatakan bahwa kendaraan tersebut terlalu besar untuk digunakan di jalanan Jakarta. Jawaban itu menjadi cara Benny menyampaikan penolakan tanpa menyinggung perasaan tuan rumah yang telah menunjukkan kemurahan hati. Sultan Hassanal Bolkiah kemudian mencoba menawarkan pilihan lain yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan Benny. Ia memperlihatkan sejumlah mobil sport dari berbagai merek terkenal yang menjadi bagian dari koleksi kendaraannya. Beberapa merek yang disebutkan dalam kisah tersebut antara lain Ferrari, Lamborghini, dan Lotus.
Tawaran kendaraan sport ternyata tidak membuat Benny berubah pikiran. Meskipun mobil-mobil tersebut memiliki nilai tinggi dan menjadi impian banyak penggemar otomotif, ia tetap memilih untuk tidak menerimanya. Ketika Sultan mempersilakan Benny memilih salah satu mobil sport yang tersedia, sang jenderal kembali memberikan jawaban yang tidak terduga. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak mampu menanggung biaya bahan bakar yang dibutuhkan untuk menggunakan kendaraan tersebut. Dalam cerita yang beredar, Benny menyampaikan alasan itu dengan ungkapan bahasa Inggris, I can’t afford the price of the fuel needed. Jawaban sederhana tersebut menjadi bagian paling dikenal dari kisah penolakan hadiah mobil mewah Sultan Brunei.
Sultan Hassanal Bolkiah disebut tertawa setelah mendengar alasan Benny mengenai biaya bahan bakar kendaraan sport. Sang Sultan akhirnya memahami bahwa tamunya memang tidak ingin menerima hadiah tersebut meskipun telah diberikan berbagai pilihan. Cara Benny menolak pemberian itu menjadi perhatian karena dilakukan tanpa menunjukkan sikap kasar ataupun merendahkan niat baik tuan rumah. Ia tetap menghargai hubungan persahabatan yang telah terjalin antara kedua pihak. Pada saat yang sama, Benny mempertahankan keputusan yang menurutnya sesuai dengan tanggung jawab sebagai pejabat negara. Peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu cerita mengenai karakter dan prinsip pribadi sang jenderal.
Benny Moerdani merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah militer Indonesia. Pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah, pada 2 Oktober 1932 itu dikenal memiliki pengalaman panjang dalam dunia intelijen dan operasi militer. Ia pernah bertugas dalam berbagai penugasan penting sebelum mencapai posisi tertinggi sebagai Panglima ABRI pada 1983 hingga 1988. Benny juga memiliki latar belakang sebagai perwira pasukan khusus yang menjadi cikal bakal Komando Pasukan Khusus atau Kopassus. Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Panglima ABRI, ia dipercaya menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan pada 1988 hingga 1993. Pengalaman panjang tersebut menjadikan Benny sebagai salah satu figur yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan institusi militer Indonesia.
Kisah penolakan mobil mewah dari Sultan Hassanal Bolkiah menjadi salah satu bagian menarik dari perjalanan hidup Benny Moerdani yang terus dikenang. Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana seorang pejabat tinggi dapat menghadapi tawaran hadiah bernilai besar dengan tetap mempertimbangkan tanggung jawab jabatannya. Alasan mengenai ukuran kendaraan dan biaya bahan bakar juga menunjukkan penggunaan humor sebagai cara menyampaikan keputusan yang berpotensi menimbulkan kecanggungan. Meski merupakan peristiwa masa lalu, kisah tersebut masih relevan dalam pembahasan mengenai etika jabatan dan batasan penerimaan hadiah oleh pejabat publik. Benny Moerdani meninggal dunia pada 29 Agustus 2004, tetapi berbagai cerita mengenai perjalanan kariernya masih menjadi bagian dari sejarah militer nasional. Salah satunya adalah momen ketika ia berhasil membuat Sultan Brunei tertawa setelah menolak hadiah mobil mewah dengan alasan tidak sanggup membeli bensinnya.