Jakarta, 14 September 2026 – FIFA ASEAN Cup 2026 berpotensi mengadopsi pola penyelenggaraan empat tahun sekali seperti Piala Dunia apabila edisi perdananya mendapatkan respons positif. Turnamen baru FIFA tersebut akan menjadi panggung kompetitif bagi negara-negara Asia Tenggara sekaligus beberapa tim undangan dari kawasan Asia. Edisi perdana dijadwalkan berlangsung pada 24 September hingga 5 Oktober 2026 dengan Indonesia dan Hong Kong, China sebagai tuan rumah. Indonesia mendapatkan keuntungan besar karena menjadi penyelenggara seluruh pertandingan Divisi 1 yang diikuti delapan negara. Timnas Indonesia tergabung di Grup A bersama Malaysia, Singapura, dan Bangladesh. Status tuan rumah membuat skuad Garuda tidak perlu melakukan perjalanan antarnegara selama fase grup dan dapat bermain di hadapan pendukung sendiri.
Gagasan penyelenggaraan empat tahunan muncul karena edisi berikutnya berpotensi digelar pada 2030. Namun, kelanjutan tersebut masih akan sangat bergantung pada keberhasilan turnamen pertama. Sejumlah aspek seperti antusiasme penonton, nilai komersial, sponsor, hak siar, serta kualitas penyelenggaraan akan menjadi pertimbangan dalam menentukan masa depan kompetisi. Apabila indikator tersebut menunjukkan hasil positif, pola empat tahun sekali dapat membuat FIFA ASEAN Cup mempunyai kalender yang lebih eksklusif. Konsep tersebut menyerupai Piala Dunia dalam hal interval penyelenggaraan, meskipun skala dan format kompetisinya tentu berbeda. Edisi 2026 karena itu mempunyai peranan besar dalam menentukan arah turnamen pada masa mendatang.
FIFA telah memastikan turnamen edisi pertama melibatkan 14 tim yang dibagi ke dalam dua divisi. Seluruh 11 negara anggota ASEAN ikut ambil bagian bersama tiga tim undangan dari kawasan yang lebih luas. Delapan tim bertanding di Divisi 1 yang digelar di Indonesia, sementara enam negara lainnya berada di Divisi 2 yang berlangsung di Hong Kong, China. Pembagian tersebut memberikan pertandingan dengan tingkat persaingan yang relatif lebih seimbang. Setiap divisi kemudian dibagi lagi menjadi dua grup. Para peserta menjalani pertandingan dengan sistem setengah kompetisi sebelum tim terbaik melangkah menuju pertandingan penentuan gelar.
Divisi 1 menjadi panggung utama bagi Timnas Indonesia. Grup A dihuni Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Bangladesh, sedangkan Grup B mempertemukan Vietnam, Pakistan, Thailand, dan Filipina. Komposisi tersebut membuat Indonesia langsung menghadapi dua rival regional yang sudah sangat familiar. Pertandingan melawan Malaysia dan Singapura hampir selalu menghadirkan tensi tinggi karena sejarah panjang persaingan sepak bola Asia Tenggara. Bangladesh juga tidak dapat dianggap sebagai lawan yang otomatis mudah dikalahkan karena karakter permainan mereka berbeda. Indonesia membutuhkan konsistensi sejak pertandingan pertama karena hanya juara grup yang memperoleh tiket menuju final.
Format tersebut membuat setiap pertandingan mempunyai bobot sangat besar. Tidak terdapat babak semifinal seperti yang lazim digunakan dalam banyak turnamen. Juara Grup A akan langsung bertemu juara Grup B untuk menentukan kampiun Divisi 1, sedangkan dua tim peringkat kedua akan menjalani pertandingan perebutan tempat ketiga. Artinya, satu kekalahan atau kehilangan poin pada fase grup dapat memberikan konsekuensi besar terhadap peluang menuju final. Indonesia harus mampu memaksimalkan tiga pertandingan grup dan menjaga produktivitas gol. Selisih gol juga dapat menjadi faktor penting apabila terdapat tim yang mengumpulkan jumlah poin sama.
Keuntungan terbesar Indonesia berasal dari status sebagai tuan rumah Divisi 1. Pertandingan akan dimainkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, dan Stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Kedua stadion memberikan lingkungan yang familiar bagi pemain Indonesia sekaligus memungkinkan dukungan besar dari suporter. Tim juga tidak menghadapi perjalanan internasional yang dapat menguras waktu dan kondisi fisik selama turnamen. Adaptasi terhadap cuaca dan lingkungan praktis tidak menjadi persoalan besar seperti ketika bermain di negara lain. Faktor-faktor tersebut memberikan keuntungan nonteknis yang dapat membantu skuad Garuda selama persaingan fase grup.
Dukungan suporter berpotensi menjadi kekuatan tambahan ketika Indonesia menghadapi pertandingan penting. Atmosfer pertandingan internasional di SUGBK selama ini dikenal mampu memberikan tekanan besar terhadap lawan. Ribuan pendukung dapat memberikan energi kepada pemain ketika pertandingan berlangsung ketat. Namun, keuntungan tersebut tetap harus diterjemahkan melalui performa di lapangan. Status tuan rumah tidak memberikan jaminan Indonesia otomatis mencapai final. Pemain justru perlu mengelola tekanan karena ekspektasi masyarakat terhadap prestasi Timnas Indonesia akan sangat tinggi pada turnamen yang dimainkan di kandang sendiri.
Keuntungan berikutnya datang dari jadwal FIFA ASEAN Cup yang ditempatkan dalam kalender pertandingan internasional putra FIFA. Kondisi tersebut memberikan kesempatan lebih besar kepada Timnas Indonesia untuk memanggil pemain terbaik yang memperkuat klub di dalam maupun luar negeri. Klub mempunyai kewajiban melepas pemain yang mendapatkan panggilan tim nasional dalam periode internasional sesuai ketentuan yang berlaku. Situasi ini berbeda dengan sejumlah turnamen regional yang pernah berlangsung di luar kalender internasional sehingga tim kesulitan mendapatkan seluruh pemain utama. Indonesia dengan demikian mempunyai peluang membentuk skuad dengan kekuatan lebih lengkap. Kedalaman pemain akan menjadi faktor penting karena pertandingan berlangsung dalam periode relatif singkat.
Kehadiran pemain yang berkarier di luar negeri dapat meningkatkan kualitas persaingan di dalam skuad. Tim pelatih mempunyai lebih banyak pilihan untuk menentukan komposisi berdasarkan kebutuhan menghadapi karakter lawan berbeda. Indonesia juga dapat menggunakan turnamen tersebut sebagai kesempatan mengukur kemampuan menghadapi negara-negara regional dengan skuad terbaik. Persaingan melawan Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, maupun Filipina dapat memberikan gambaran mengenai posisi kekuatan Indonesia di Asia Tenggara. Turnamen juga mempunyai nilai penting bagi proses membangun konsistensi permainan Timnas Indonesia. Kesempatan bertanding dalam kompetisi resmi berbeda dengan pertandingan persahabatan karena tekanan untuk memperoleh hasil jauh lebih besar.
Divisi 2 sementara itu berlangsung di Hong Kong, China dengan enam peserta. Grup A dihuni Hong Kong, China, Laos, dan Brunei Darussalam, sedangkan Grup B mempertemukan Kamboja, Myanmar, dan Timor-Leste. Stadion Kai Tak dan Mong Kok menjadi lokasi pertandingan divisi tersebut. Sama seperti Divisi 1, setiap grup memainkan sistem satu putaran sebelum juara grup bertemu pada pertandingan final. Dengan pembagian dua divisi, lebih banyak negara mendapatkan pertandingan yang kompetitif sesuai tingkat perkembangan masing-masing. FIFA berharap sistem tersebut dapat memberikan kesempatan internasional berkualitas sekaligus membantu pengembangan sepak bola di kawasan.
FIFA ASEAN Cup juga mempunyai dimensi strategis yang lebih luas daripada sekadar perebutan trofi. FIFA merancang kompetisi untuk memberikan kesempatan pertandingan internasional yang bermakna kepada negara-negara di kawasan sekaligus memperkuat hubungan sepak bola Asia Tenggara. Turnamen dapat meningkatkan pengalaman pemain, kualitas penyelenggaraan pertandingan, serta perhatian komersial terhadap sepak bola regional. Bagi Indonesia, menjadi tuan rumah edisi pertama memberikan kesempatan menunjukkan kemampuan menggelar kompetisi internasional. Pengalaman menyelenggarakan berbagai turnamen sebelumnya menjadi modal untuk memastikan aspek pertandingan, keamanan, transportasi, dan pelayanan tim berjalan sesuai standar.
Apabila FIFA ASEAN Cup benar-benar berkembang menjadi turnamen empat tahunan, edisi 2026 akan mempunyai nilai historis tersendiri. Indonesia mendapatkan kesempatan menjadi salah satu tuan rumah sekaligus memburu gelar pada penyelenggaraan pertama. Keuntungan bermain di kandang, dukungan suporter, minimnya perjalanan, serta kesempatan memanggil pemain terbaik membuat skuad Garuda berada dalam posisi menarik. Namun, format tanpa semifinal membuat kesalahan pada fase grup sangat mahal dan Indonesia harus langsung tampil maksimal sejak pertandingan pertama. Malaysia, Singapura, dan Bangladesh akan menjadi ujian sebelum peluang menuju final dapat terbuka. Dengan segala keuntungan yang dimiliki, FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi kesempatan besar bagi Timnas Indonesia untuk mencatatkan prestasi sekaligus menempatkan namanya dalam sejarah awal turnamen baru FIFA tersebut.