Rupiah Kembali Tertekan, Ditutup Melemah ke Rp17.966 per Dolar AS

Jakarta, 1 Oktober 2026 – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp17.966 per dolar AS atau turun 72 poin dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp17.894 per dolar AS. Pelemahan sekitar 0,40 persen tersebut membawa mata uang Garuda kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Tekanan tidak hanya dialami rupiah karena sebagian besar mata uang Asia juga bergerak melemah. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi sentimen utama yang membebani mata uang kawasan.

Rupiah sebenarnya baru mencatat penguatan cukup besar pada perdagangan Rabu (30/9), ketika menguat 0,48 persen atau 87 poin menjadi Rp17.894 per dolar AS. Namun, momentum tersebut tidak berlanjut pada perdagangan pertama Oktober. Pada Kamis pagi, rupiah sudah dibuka melemah 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.915 per dolar AS. Tekanan kemudian berlanjut sepanjang perdagangan hingga mata uang domestik akhirnya ditutup di Rp17.966. Pergerakan tersebut menunjukkan sentimen global masih memberikan tekanan cukup besar terhadap pasar valuta asing domestik.

Dari eksternal, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor. Imbal hasil US Treasury meningkat setelah sejumlah pejabat Federal Reserve memberikan sinyal bahwa pengetatan tambahan mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi. Kondisi tersebut turut memperkuat permintaan terhadap dolar dan mengurangi daya tarik aset keuangan negara berkembang. Survei pelaku pasar juga menunjukkan posisi jual terhadap rupiah meningkat ke level tertinggi sejak akhir Juli. Indonesia termasuk negara Asia yang mendapat tekanan tambahan karena berstatus sebagai importir bersih energi.

Harga minyak yang masih tinggi menjadi faktor lain yang membayangi rupiah. Kenaikan harga energi dapat memperbesar biaya impor Indonesia sekaligus meningkatkan risiko terhadap neraca transaksi berjalan dan beban fiskal. Situasi serupa turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara pengimpor energi lainnya seperti India, Thailand, dan Filipina. Ketika harga minyak tinggi berlangsung bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS, tekanan terhadap mata uang negara berkembang cenderung meningkat. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mempertahankan sikap berhati-hati terhadap rupiah.

Dari dalam negeri, pasar turut mencermati perkembangan inflasi September 2026. Inflasi tahunan tercatat meningkat menjadi 3,28 persen dan menambah perhatian terhadap tekanan harga domestik. Di sisi lain, sejumlah indikator ekonomi masih memberikan penopang, termasuk aktivitas manufaktur Indonesia yang kembali berada di zona ekspansi. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia mencapai 52,4 pada September, meningkat dari 49,8 pada Agustus. Neraca perdagangan Agustus juga membukukan surplus sekitar 3,55 miliar dolar AS setelah ekspor mencapai 26,61 miliar dolar AS dan impor 23,06 miliar dolar AS.

Bank Indonesia tetap menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tingginya volatilitas pasar global. Sehari sebelumnya, penguatan rupiah antara lain ditopang intervensi BI di pasar valuta asing ketika indeks dolar AS sempat terkoreksi. Pada Kamis, kurs transaksi BI untuk dolar AS tercatat dengan kurs jual Rp17.966,38 dan kurs beli Rp17.787,62. Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan dolar, imbal hasil US Treasury, harga minyak, serta arus modal asing. Respons pasar terhadap data ekonomi domestik juga akan menentukan kemampuan rupiah menjauh dari level Rp18.000.

Dengan penutupan di Rp17.966 per dolar AS, rupiah kini hanya berjarak tipis dari level psikologis Rp18.000. Tekanan global masih menjadi risiko utama, terutama apabila harga minyak dan imbal hasil obligasi AS tetap berada pada level tinggi. Meski demikian, surplus perdagangan dan membaiknya aktivitas manufaktur memberikan dukungan dari sisi fundamental domestik. Stabilitas rupiah dalam perdagangan berikutnya akan bergantung pada keseimbangan antara sentimen eksternal tersebut dan langkah stabilisasi Bank Indonesia. Pelaku pasar pun diperkirakan tetap berhati-hati mengikuti perkembangan kebijakan The Fed dan indikator ekonomi Amerika Serikat.