Oxford, 17 September 2026 – Pitt Rivers Museum di University of Oxford, Inggris, bersiap mengembalikan 39 sisa jenazah leluhur masyarakat Naga ke tanah asal mereka di Nagaland, India timur laut. Keputusan tersebut menjadi salah satu langkah repatriasi penting setelah sebagian sisa jenazah berada di Oxford selama lebih dari satu abad. Sebagian besar koleksi dibawa ke Inggris pada periode kolonial antara sekitar 1910 hingga 1940. Museum mengakui proses pengumpulan pada masa tersebut tidak selalu berlangsung secara sukarela dan sejumlah benda maupun sisa jenazah diperoleh dalam konteks ekspedisi militer kolonial. Setelah proses dialog yang berlangsung sejak 2020, University of Oxford Council menyetujui pemulangan 39 sisa jenazah pada 13 Juli 2026. Pemulangan tersebut dipandang komunitas Naga sebagai bagian dari proses pemulihan martabat leluhur sekaligus rekonsiliasi dengan sejarah kolonial.
Pitt Rivers Museum merupakan bagian dari University of Oxford dan menyimpan koleksi material Naga terbesar di dunia. Museum mencatat sekitar 6.500 benda Naga berada dalam koleksinya, dengan ratusan di antaranya masih dipamerkan. Di dalam keseluruhan koleksi tersebut terdapat 219 item yang dikategorikan berkaitan dengan sisa manusia Naga. Sebanyak 39 di antaranya merupakan sisa jenazah leluhur, terutama berupa tengkorak, sedangkan 178 benda lainnya mengandung atau diduga mengandung rambut manusia. Program repatriasi yang sedang dilakukan secara khusus menyangkut 39 leluhur tersebut. Benda-benda yang mengandung rambut tidak otomatis menjadi bagian dari pemulangan karena masyarakat Naga masih dapat mempunyai pandangan berbeda mengenai bagaimana koleksi tersebut seharusnya diperlakukan.
Sebagian besar sisa jenazah Naga tersebut dibawa ke Oxford oleh dua administrator kolonial sekaligus antropolog, John Henry Hutton dan James Philip Mills. Keduanya bertugas dalam Indian Civil Service ketika Inggris masih menguasai wilayah India. Museum menyatakan penggunaan istilah “mengumpulkan” tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi ketika benda-benda tersebut diperoleh. Catatan sejarah menunjukkan sejumlah sisa manusia dan artefak disita dalam ekspedisi militer yang bersifat menghukum terhadap komunitas setempat. Dalam ekspedisi Pangsha pada 1936, misalnya, Mills tercatat meminta kepala manusia dari sebuah desa dengan kehadiran pengawalan bersenjata. Latar tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam evaluasi museum terhadap sejarah koleksinya sendiri.
Selama bertahun-tahun, sebagian sisa manusia Naga juga ditempatkan dalam konteks pameran yang menghubungkannya dengan praktik pengayauan atau headhunting. Masyarakat Naga kemudian mempertanyakan cara tersebut karena dianggap mengabaikan konteks kolonial mengenai bagaimana sebagian sisa jenazah sampai ke Inggris. Bagi komunitas asal, benda yang berada di museum bukan sekadar spesimen antropologi, tetapi bagian tubuh leluhur yang mempunyai hubungan dengan keluarga, desa, dan identitas masyarakat. Perbedaan cara pandang tersebut menjadi salah satu pusat pembicaraan mengenai repatriasi. Museum kemudian mulai mengubah pendekatan terhadap koleksi manusia yang dimilikinya. Pada 2020, seluruh sisa manusia dikeluarkan dari ruang pamer Pitt Rivers Museum.
Tahun 2020 sekaligus menjadi titik penting dimulainya dialog mengenai kemungkinan mengembalikan leluhur Naga. Museum bekerja bersama Forum for Naga Reconciliation atau FNR serta tim Recover, Restore and Decolonise. Proses tersebut melibatkan dewan suku atau tribal Hohos, para tetua, gereja, akademisi, dan komunitas dari berbagai bagian tanah Naga. Pendekatan yang digunakan menempatkan masyarakat Naga sebagai pihak yang memimpin proses penentuan mengenai masa depan leluhur mereka. Museum menyediakan informasi mengenai koleksi serta mekanisme repatriasi, tetapi keputusan mengenai bagaimana sisa jenazah akan diterima dan diperlakukan dikembangkan melalui konsultasi komunitas. Proses itu berlangsung selama beberapa tahun sebelum permintaan resmi disampaikan kepada University of Oxford.
Pada Juni 2025, delegasi Naga datang langsung ke Oxford sebagai bagian dari proses tersebut. Kunjungan menjadi momen emosional karena sejumlah anggota delegasi untuk pertama kalinya berhadapan langsung dengan sisa jenazah yang diyakini berasal dari komunitas mereka. Sejumlah perwakilan bahkan mengidentifikasi leluhur berdasarkan catatan yang tersimpan bersama koleksi. Pertemuan tersebut tidak hanya membahas aspek administratif pemulangan, tetapi juga melibatkan doa, nyanyian, dan kegiatan yang mempunyai makna bagi masyarakat Naga. Delegasi kemudian menyampaikan Naga-Oxford Declaration on Repatriation pada 13 Juni 2025. Deklarasi itu menegaskan komitmen bersama masyarakat Naga untuk membawa pulang leluhur dan menyediakan tempat peristirahatan yang bermartabat.
Tahap formal berikutnya berlangsung pada Februari 2026 ketika Forum for Naga Reconciliation mengajukan klaim terhadap 40 sisa jenazah leluhur yang tersimpan di Pitt Rivers Museum. Permohonan tersebut telah memperoleh otorisasi dari dewan-dewan suku Naga yang terkait. Dewan pengelola museum kemudian merekomendasikan agar 39 dari 40 sisa jenazah dikembalikan. Prosedur University of Oxford juga memberikan kesempatan kepada pihak berkepentingan untuk memberikan tanggapan sebelum keputusan final dibuat. University of Oxford Council akhirnya membahas permohonan tersebut dalam pertemuan pada 13 Juli 2026. Hasilnya, universitas menyetujui pemulangan 39 sisa jenazah kepada masyarakat Naga.
Satu sisa jenazah tidak termasuk dalam keputusan pemulangan. University of Oxford menjelaskan terdapat ketidakjelasan mengenai asal-usulnya sehingga belum terdapat bukti yang cukup untuk memastikan bahwa jenazah tersebut berasal dari masyarakat Naga. Keputusan itu membuat jumlah yang akan dikembalikan menjadi 39, bukan 40 sebagaimana permintaan awal. Museum menekankan bahwa persoalan provenance atau riwayat asal koleksi menjadi bagian penting dalam setiap proses repatriasi. Identifikasi harus dilakukan dengan menelusuri dokumentasi yang tersedia agar sisa manusia dikembalikan kepada komunitas yang mempunyai hubungan dengannya. Penelitian mengenai koleksi karena itu berjalan bersamaan dengan konsultasi terhadap masyarakat asal.
Bagi masyarakat Naga, pemulangan tersebut mempunyai arti yang melampaui perpindahan fisik sisa jenazah dari Inggris ke India. Forum for Naga Reconciliation menggambarkan repatriasi sebagai proses mengembalikan ingatan kepada tempat asalnya. Masyarakat juga melihatnya sebagai kesempatan untuk memberikan penghormatan dan tempat peristirahatan yang dianggap layak kepada leluhur. Sebagian perwakilan Naga menyatakan keberadaan sisa jenazah jauh dari tanah asal selama puluhan tahun meninggalkan persoalan spiritual dan emosional. Karena itu, kepulangan para leluhur dipandang sebagai bagian dari proses penyembuhan masyarakat. Museum sendiri menyebut perjalanan tersebut sebagai proses dialog, penelitian, rekonsiliasi, dan pemulihan yang belum berhenti hanya dengan pengembalian fisik.
Rencana kepulangan juga telah dibahas antarkomunitas Naga agar sisa jenazah tidak hanya dikaitkan dengan kepentingan satu kelompok. Mereka berkomitmen menyediakan tempat peristirahatan bersama berupa memorial yang dimaksudkan sebagai ruang penyembuhan dan perdamaian bagi generasi mendatang. Tempat tersebut juga dirancang untuk melambangkan persatuan masyarakat Naga. Para leluhur akan terlebih dahulu tiba di Dimapur, Nagaland, setelah perjalanan dari Inggris. Delegasi Naga direncanakan datang ke Oxford untuk mengikuti upacara serah terima dan kemudian mendampingi mereka dalam perjalanan pulang. Pengaturan tersebut memberikan kesempatan kepada komunitas asal untuk menentukan bagaimana proses kepulangan dilakukan sesuai nilai yang mereka anggap penting.
Pemulangan belum dapat dilakukan segera setelah keputusan University of Oxford diterbitkan karena terdapat sejumlah proses administratif dan teknis. Pengiriman internasional sisa jenazah membutuhkan izin serta perusahaan pengiriman khusus. Pitt Rivers Museum memperkirakan pengaturan teknis transportasi membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Museum juga harus mengoordinasikan perjalanan delegasi, upacara serah terima, dokumentasi, serta prosedur yang diperlukan di Inggris dan India. Karena itu, tanggal pasti kepulangan harus disepakati bersama masyarakat Naga. Museum menyatakan sedang bekerja dengan para perwakilan untuk memastikan proses dilakukan dengan penghormatan yang sesuai.
Direktur Pitt Rivers Museum Laura Van Broekhoven menggambarkan proses tersebut sebagai perjalanan panjang yang membawa kesedihan sekaligus harapan. Menurut museum, penelusuran sejarah koleksi memaksa institusi melihat kembali hubungan antara praktik antropologi pada masa lalu dengan kekuasaan kolonial. Sejumlah koleksi yang sebelumnya diperlakukan sebagai objek penelitian kini dievaluasi melalui perspektif masyarakat yang menjadi asal benda dan sisa manusia tersebut. Perubahan tersebut tidak berarti seluruh koleksi Naga akan dikembalikan secara otomatis. Setiap kategori mempunyai persoalan sejarah, kepemilikan, dan pandangan komunitas yang berbeda. Namun, pemulangan 39 leluhur menjadi salah satu hasil paling konkret dari perubahan pendekatan tersebut.
Proses repatriasi Naga juga menjadi bagian dari perdebatan lebih luas mengenai sisa manusia dan benda budaya yang berada di museum Eropa akibat kolonialisme. Banyak institusi kini menghadapi permintaan agar meneliti kembali bagaimana koleksi diperoleh serta apakah masyarakat asal mempunyai hak untuk menentukan masa depannya. Dalam kasus Pitt Rivers Museum, catatan sejarah mengenai ekspedisi kolonial memberikan konteks penting terhadap permintaan masyarakat Naga. Museum secara terbuka mengakui bahwa sejumlah benda dan sisa manusia diperoleh melalui situasi yang melibatkan pemaksaan dan kekerasan kolonial. Pengakuan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar membangun dialog dengan masyarakat asal.
Kepulangan 39 leluhur Naga pada akhirnya menandai perubahan besar setelah mereka berada jauh dari tanah asal selama lebih dari satu abad. Proses yang dimulai melalui dialog pada 2020 berkembang menjadi konsultasi antarsuku, kunjungan delegasi ke Oxford, permintaan resmi, hingga persetujuan University of Oxford pada Juli 2026. Pitt Rivers Museum kini menyiapkan upacara serah terima sebelum delegasi membawa para leluhur menuju Nagaland. Bagi masyarakat Naga, proses tersebut dipandang sebagai bagian dari pemulihan martabat, ingatan sejarah, dan penghormatan terhadap mereka yang telah meninggal. Sementara bagi museum, repatriasi menjadi kesempatan untuk menghadapi secara lebih terbuka sejarah kolonial yang membentuk sebagian koleksinya. Setelah lebih dari seratus tahun berada di Oxford, 39 leluhur Naga kini bersiap memulai perjalanan kembali ke tanah asal mereka.