5 Perompak Paling Kejam dan Ditakuti dalam Sejarah Dunia, Aksi Mereka Menggemparkan Lautan

Jakarta, 11 Oktober 2026 – Sejarah pelayaran dunia menyimpan berbagai kisah mengenai perompak yang dikenal karena aksi penyerangan, perampasan kapal, hingga kekerasan terhadap awak dan penumpang. Sejumlah nama bahkan menjadi legenda karena mampu menguasai jalur perdagangan laut dan menimbulkan ketakutan di kalangan pelaut. Aktivitas perompakan mencapai masa kejayaan di berbagai wilayah dunia, terutama pada abad ke-17 hingga ke-18 ketika perdagangan antarbenua berkembang pesat. Para perompak memanfaatkan lemahnya pengawasan laut untuk menyerang kapal dagang yang membawa barang berharga. Dari sekian banyak tokoh yang tercatat dalam sejarah, terdapat lima perompak yang dikenal luas karena reputasi menakutkan dan tindakan brutal mereka.

Salah satu perompak paling terkenal adalah Edward Teach atau Edward Thatch yang lebih dikenal dengan nama Blackbeard. Ia beroperasi di kawasan Karibia dan pesisir Amerika Utara pada awal abad ke-18 dengan kapal andalannya bernama Queen Anne’s Revenge. Blackbeard dikenal memiliki penampilan menyeramkan dengan janggut hitam panjang serta kebiasaan memasang sumbu menyala di sekitar topinya untuk menciptakan kesan menakutkan. Strategi tersebut digunakan untuk membuat awak kapal lawan menyerah sebelum pertempuran berlangsung. Meski reputasinya sangat mengerikan, catatan sejarah mengenai tingkat kekerasan yang benar-benar dilakukannya masih menjadi bahan kajian para sejarawan.

Nama kedua adalah François l’Olonnais, perompak asal Prancis yang dikenal beroperasi di kawasan Karibia pada abad ke-17. Ia memiliki reputasi sebagai salah satu bajak laut paling brutal karena berbagai kisah mengenai penyiksaan dan pembunuhan terhadap tawanan. François kerap menyerang kapal serta permukiman yang berada di bawah kekuasaan Spanyol, termasuk dalam ekspedisi penyerangan ke wilayah Amerika Tengah. Sejumlah catatan sejarah menggambarkan tindakannya yang sangat kejam terhadap orang-orang yang dianggap sebagai musuh. Namun, sebagian kisah mengenai kekejamannya berasal dari tulisan sezaman yang mungkin mengandung unsur dramatisasi sehingga perlu dipahami secara kritis.

Perompak ketiga yang dikenal luas adalah Bartholomew Roberts atau Black Bart, seorang bajak laut asal Wales yang aktif pada awal abad ke-18. Ia dianggap sebagai salah satu perompak paling berhasil dalam sejarah berdasarkan jumlah kapal yang berhasil direbut selama masa operasinya. Roberts diperkirakan menyerang atau menguasai lebih dari 400 kapal dalam kurun waktu sekitar tiga tahun. Wilayah operasinya mencakup Samudra Atlantik, perairan Afrika Barat, hingga kawasan Karibia. Kemampuannya mengorganisasi awak kapal dan menjalankan serangan secara terencana membuat namanya menjadi ancaman besar bagi perdagangan maritim pada masa tersebut.

Tokoh keempat adalah Charles Vane, perompak Inggris yang dikenal karena sikap keras dan penolakannya terhadap upaya pemberian pengampunan kepada para bajak laut. Ia aktif di kawasan Bahama dan Karibia pada awal abad ke-18 ketika aktivitas perompakan masih menjadi ancaman serius bagi kapal perdagangan. Vane memiliki reputasi sebagai pemimpin yang tidak segan menggunakan kekerasan terhadap pihak yang menentangnya. Konflik dengan sesama awak kapal serta tindakannya yang dianggap tidak disiplin akhirnya menyebabkan posisinya sebagai kapten tergeser. Setelah tertangkap, Charles Vane menjalani proses hukum dan dieksekusi pada 1721 di Jamaika.

Nama kelima adalah Ching Shih atau Zheng Yi Sao, perempuan asal China yang menjadi salah satu pemimpin armada perompak terbesar dalam sejarah. Ia memimpin konfederasi bajak laut di Laut China Selatan pada awal abad ke-19 setelah kematian suaminya, Zheng Yi. Armada yang berada di bawah pengaruhnya terdiri atas ratusan kapal dan puluhan ribu anggota, menjadikannya kekuatan besar yang sulit ditaklukkan. Ching Shih menerapkan aturan disiplin ketat dengan hukuman berat bagi anggota yang melanggar ketentuan organisasi. Berbeda dari banyak perompak lain yang berakhir dengan penangkapan atau kematian dalam pertempuran, ia berhasil mencapai kesepakatan dengan pemerintah Qing dan mengakhiri aktivitas perompakannya.

Kelima tokoh tersebut memiliki karakter dan wilayah operasi yang berbeda, tetapi sama-sama meninggalkan pengaruh besar dalam sejarah keamanan pelayaran. Blackbeard dikenal melalui strategi intimidasi, sedangkan François l’Olonnais memiliki reputasi kekerasan yang sangat menonjol. Bartholomew Roberts memperlihatkan kemampuan menguasai banyak kapal, sementara Charles Vane dikenal melalui perlawanan keras terhadap otoritas kolonial. Ching Shih menunjukkan kemampuan membangun organisasi perompakan berskala besar dengan sistem kepemimpinan yang terstruktur. Kisah mereka memperlihatkan bahwa ancaman perompakan tidak hanya bergantung pada kekuatan senjata, tetapi juga pada strategi, organisasi, dan penguasaan jalur perdagangan.

Seiring perkembangan teknologi pelayaran dan penguatan angkatan laut berbagai negara, aktivitas perompakan dalam bentuk tradisional mulai mengalami penurunan di sejumlah kawasan. Pemerintah kolonial dan kerajaan maritim meningkatkan patroli untuk melindungi kapal dagang serta mengamankan jalur perdagangan internasional. Meski demikian, perompakan tidak sepenuhnya hilang dan masih menjadi persoalan keamanan di beberapa perairan dunia hingga era modern. Kisah Blackbeard, François l’Olonnais, Bartholomew Roberts, Charles Vane, dan Ching Shih tetap menjadi bagian penting dalam kajian sejarah maritim. Reputasi mereka sebagai perompak yang ditakuti sekaligus mengingatkan dunia terhadap besarnya dampak kekerasan dan kejahatan di lautan terhadap perdagangan serta keselamatan manusia.