Jakarta, 17 September 2026 – Nama Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam kembali menjadi perhatian setelah PT Jhonlin Baratama menyepakati rencana pembelian 10.000.000.500 saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Jumlah tersebut setara sekitar 30 persen dari total saham BYAN yang beredar. Saham akan dialihkan oleh Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low, melalui perjanjian jual beli saham bersyarat yang ditandatangani pada 16 September 2026. Transaksi tersebut masih harus memenuhi sejumlah kondisi pendahuluan sebelum dapat diselesaikan. Nilai maupun harga transaksi belum diumumkan secara resmi dalam keterbukaan informasi. Jika rampung, transaksi tersebut akan memperluas portofolio bisnis Haji Isam di industri pertambangan batu bara.
Haji Isam merupakan pengusaha asal Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai figur utama di balik Jhonlin Group. Perjalanan bisnisnya banyak dikaitkan dengan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, yang kemudian menjadi salah satu basis perkembangan kelompok usahanya. Sebelum menjadi pengusaha besar, Haji Isam disebut pernah menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari sektor perkayuan, sopir angkutan, tukang ojek hingga operator alat berat. Pengalaman bekerja di lapangan kemudian membawanya semakin dekat dengan industri pertambangan batu bara. Ia mulai membangun bisnis sendiri setelah memperoleh pengalaman di sektor tersebut. Jhonlin Baratama yang berdiri pada 2003 kemudian menjadi salah satu fondasi utama perkembangan kelompok usahanya.
Jhonlin Baratama awalnya berkembang melalui kegiatan kontraktor pertambangan sebelum bisnisnya semakin luas. Perusahaan tersebut kini dikenal bergerak dalam kegiatan yang berkaitan dengan pertambangan batu bara dan nikel serta penyewaan peralatan tambang. Dari sektor inilah jaringan usaha Haji Isam berkembang ke berbagai bidang yang saling mendukung. Bisnis pertambangan membutuhkan alat berat, transportasi, pelabuhan dan sistem logistik dalam skala besar sehingga ekspansi dilakukan ke sektor-sektor tersebut. Jhonlin Group kemudian memiliki jaringan usaha transportasi laut dan logistik untuk mendukung pengangkutan komoditas. Perkembangan tersebut membuat kelompok usaha Haji Isam tidak lagi hanya bergantung pada satu lini bisnis.
Ekspansi Haji Isam kemudian menjangkau sektor perkebunan dan energi melalui PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR). Perusahaan tersebut memiliki kegiatan perkebunan kelapa sawit sekaligus mengembangkan pengolahan biodiesel. JARR memiliki perkebunan di Kalimantan Selatan dan mengembangkan fasilitas produksi untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil perkebunan. Selain JARR, jaringan bisnis keluarga Haji Isam juga terhubung dengan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit. Kehadiran sejumlah perusahaan tersebut menunjukkan strategi diversifikasi dari batu bara menuju agribisnis dan energi. Bisnis hilir juga dikembangkan agar kelompok usaha tidak hanya bergantung pada penjualan komoditas mentah.
Di sektor transportasi, kelompok Jhonlin mengembangkan bisnis melalui kegiatan pelayaran dan penerbangan. Jhonlin Marine mendukung distribusi komoditas menggunakan armada laut, termasuk pengangkutan hasil pertambangan. Sementara Jhonlin Air Transport dikembangkan untuk mendukung kebutuhan penerbangan dan mobilitas kelompok usaha. Infrastruktur transportasi tersebut memiliki peran penting karena kegiatan pertambangan dan perkebunan Jhonlin tersebar di sejumlah wilayah. Integrasi antara produksi dan logistik memungkinkan kelompok usaha mengendalikan lebih banyak bagian dalam rantai pasok. Model tersebut juga membantu perusahaan mengurangi ketergantungan terhadap penyedia jasa eksternal untuk sejumlah kegiatan operasional.
Gurita bisnis Haji Isam juga merambah industri gula melalui PT Prima Alam Gemilang di Bombana, Sulawesi Tenggara. Perusahaan tersebut mengembangkan perkebunan tebu dan fasilitas pengolahan gula dengan investasi berskala besar. Langkah tersebut semakin memperluas kegiatan kelompok Jhonlin di sektor pangan dan agribisnis. Selain gula, jaringan usahanya juga memiliki kegiatan pengolahan minyak sawit mentah, karet remah hingga wood pellet. Diversifikasi tersebut membuat aktivitas kelompok bisnis Haji Isam mencakup pertambangan, perkebunan, energi, logistik, transportasi hingga industri pengolahan. Sejumlah perusahaan yang terafiliasi dengan jaringan bisnisnya juga telah tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Rencana masuk ke Bayan Resources menjadi langkah besar berikutnya karena BYAN merupakan salah satu perusahaan pertambangan batu bara terintegrasi terbesar di Indonesia. Sebelum transaksi, Low Tuck Kwong menguasai sekitar 40,25 persen saham BYAN, sementara Elaine Low memiliki sekitar 22 persen. Keduanya kemudian menyepakati pengalihan 10 miliar lebih saham kepada Jhonlin Baratama. Transaksi tersebut berbeda dari rumor sebelumnya yang menyebut kelompok Haji Isam berencana mengambil sekitar 62 persen saham Bayan Resources. Dokumen resmi terbaru baru menunjukkan rencana pengalihan sekitar 30 persen saham. Karena transaksi masih bersyarat, perubahan kepemilikan baru efektif setelah seluruh ketentuan yang disepakati terpenuhi.
Jika transaksi selesai, Jhonlin Baratama akan menjadi pemegang sekitar 30 persen saham Bayan Resources dan memperbesar eksposur kelompok Haji Isam terhadap industri batu bara nasional. Langkah tersebut menambah panjang perjalanan bisnis Haji Isam yang berkembang dari kontraktor pertambangan menjadi kelompok usaha dengan berbagai lini industri. Belum ada pengumuman mengenai harga pembelian saham maupun kemungkinan transaksi lanjutan atas sisa kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Manajemen BYAN menyatakan rencana pengalihan tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif terhadap operasional, kondisi keuangan maupun kelangsungan usaha perseroan. Pasar selanjutnya akan mencermati penyelesaian syarat transaksi serta perubahan struktur kepemilikan BYAN. Akuisisi tersebut sekaligus berpotensi menjadi salah satu ekspansi terbesar Jhonlin Group di sektor pertambangan.